Home » Film » Film CGI Indonesia Termahal Tapi Gak Laku “Sepi Penonton”, Kenapa ya?

Film CGI Indonesia Termahal Tapi Gak Laku “Sepi Penonton”, Kenapa ya?

4 Film CGI Indonesia Mahal dan Keren Tapi Sepi Penonton, Kenapa ya?

Teknologi CGI (Computer Generated Imagery) memang memiliki kesan yang keren dan fantastis. Pasalnya, teknik ini kerap menjadi rahasia di balik spektakulernya film-film dunia. Sebut saja Life of Pie, Inception, Avatar, dsb.

Kualitas super yang disajikan oleh teknologi ini tentu saja menelan budget besar. Namun banyak yang tetap menerapkannya secara total, sebab income yang diterima juga tak kalah besar. Apalagi ditambah dengan dengan bonus berupa apresiasi dari sana-sini, termasuk dengan menerima beragam penghargaan bergengsi.

Rupanya beberapa produksi film tanah air pun sempat menerapkan teknologi ini. Biaya yang dikeluarkan sampai berjumlah milyaran. Gebrakan ini tentu jadi langkah positif yang bisa melambungkan industri perfilman Indonesia. Nahas sekali, modal sebesar itu tidak ‘terbayar’ oleh antusias penonton. Faktanya film-film yang sudah mengambil inisiatif bagus ini malah kurang laris di pasaran.

Film apa saja dan kenapa alasannya? Jom!

1. Garuda Superhero (2015)

film cgi indonesia gagal, film cgi indonesia gak laku, film cgi indonesia tak laku, film cgi indonesia tak laku, film cgi indonesia terbaik, film cgi indonesia termahal tapi ga laku

Sebagaimana judulnya, film ini menceritakan superhero khas Indonesia, yang diperankan oleh aktor sekaligus dokter ganteng Rizal Idrus. Sementara musuhnya adalah Durja King, yang diperankan oleh aktor senior Slamet Rahardjo. Aktor berpengaruh lain yang turut mensukseskan film ini yaitu Agus Kuncoro, Rudy Salam, Piet Pagau, dsb.

Dari susunan pemain, film ini berpotensi mengundang penonton. Lebih lagi Garuda Superhero menjadi film CGI perdana di Indonesia. Bahkan tim tidak merekrut tenaga luar negeri. Hasilnya pun cukup bagus. Efek setting tempat, senjata, dan pertarungannya patut diapresiasi. Bahkan sang sutradaranya sendiri, X-Jo, membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk mengembangkan Garuda Superhero. Sayang sekali, film ini kurang mampu menarik penonton dalam jumlah besar.

2. Jagoan Instan (2016)

film cgi indonesia termahal tapi gak laku ditonton, film cgi indonesia termahal tapi tidak laku, film cgi indonesia tidak laku film cgi indonesia termahal

Seperti halnya Superhero Garuda, film ini juga mengangkat tema superhero. Krunya juga asli lokal, tak ada campur tangan orang asing. Bedanya, Jagoan Instan sarat akan komedi atau tayangan yang mengocok perut.

Film yang dirilis pada 16 Februari ini melibatkan banyak aktor ternama. Ada Kemal Palevi, Kevin Julio, Anisa rahma, Dede Yusuf, Meriam Bellina, dsb. Keunikan film ini diprediksi bisa menjadi magnet penonton. Namun realitanya malah kebalikan dari ekspektasi. Film ini pun kurang mampu menyedot antuasias penonton.

Bangkit (2016)

film cgi indonesia yang gagal, film cgi indonesia yang gak laku, film cgi indonesia yang tak laku, film cgi indonesia yang tidak laku, film cgi indonesia yg tidak laku film cgi pertama indonesia

Publik sudah tahu kalau budget film ini berjumlah sebesar Rp12 miliar. Tak heran kalau tampilannya memang lebih total dan berkualitas. Ditambah lagi dengan storyline-nya yang lebih menarik. Bangkit! menceritakan bencana tragis di ibu kota yang diilustrasikan dengan sangat keren. Sementara karakter utamanya, Addri, adalah seorang anggota Basarnas yang penuh dedikasi.

Deretan aktor papan atas membuat film ini tambah komplit saja. Ada Vino bastian, Putri Ayudya, Deva Mahendra, Acha Septriasa, donny Damara, Ferry Salim, dsb. Besar harapan pihak produksi kalau film ini akan menarik penonton secara masif. Tetapi apa mau dikata, peminatnya ternyata masih tidak sesuai harapan.

Rafathar (2017)

film indonesia yang memakai cgi, film indonesia yang menggunakan cgi, film indonesia yang menggunakan teknologi cgi, film indonesia yang pakai cgi, film indonesia dengan cgi

Masih segar dalam ingatan, betapa orang-orang terus membicarakan film petualangan komedi yang menggunakan teknologi CGI ini. Film ini bahkan memiliki dana yang lebih tebal dari film-film CGI Indonesia lainnya, yakni sebesar Rp18 milyar. Raffi Ahmad dan pihak produksi tampaknya memang tak mau tanggung-tanggung mengeksekusi film yang dibintangi oleh anaknya.

Mereka sampai bekerja sama dengan pihak film Hollywood. Dibanding film lain, Rafathar juga melakukan promosi besar-besaran. Dengan demikian, ada harapan besar kalau film ini bisa mendapat apresiasi yang semestinya. Tetapi begitu rilis di Bulan Agustus 2017, laporan jumlah penonton film ini masih terbilang sangat kecil.

Kenapa Film CGI Indonesia Sepi Penonton?

Ingin sekali rasanya untuk menyampaikan terima kasih pada para produser dan sineas film CGI Indonesia. Setidaknya mereka sudah menjadi pionir untuk membangkitkan dan meningkatkan kualitas film tanah air. Apalagi mereka harus berkorban dana yang sangat besar, waktu panjang, ide kreatif, dan termasuk nyinyiran haters atas pencapaian yang tidak sesuai harapan.

Namun fenomena ini tentu membuat kita bertanya-tanya, kenapa film CGI Indonesia malah kurang laris? Kenapa film yang biasa-biasa saja justru bisa menciptakan antrian panjang? Jika dirunut, alasan sederhananya adalah sebagai berikut

  • Teknologi CGI Masih Belum Total

Mayoritas penonton sudah terbiasa menyaksikan bagaimana dahsyatnya efek CGI ala film barat. Mereka tentu bisa membedakan mana yang efeknya terlihat kasar, dan mana yang halus serta terkesan natural. Tetapi kita tak bisa membanding-bandingkan pemula dengan yang sudah melanglangbuana, bukan?

  • Kurang Promosi

Salah-satu hal vital untuk mendongkrak film yaitu promosi yang gencar dilakukan. Promosi sendiri bisa diupayakan lewat pembuatan serta publikasi teaser atau trailer yang memikat, pemberitaan mengenai film, atau ajakan dari tim pemain beserta produksinya. Setidaknya, promosi bisa menjadi sarana informasi dan menjaring calon penonton yang lebih luas.

  • Storyline Kurang Mendukung

Kalau mengandalkan efek CGI tanpa memerhatikan alur atau cerita juga kurang maksimal, bahkan sangat disayangkan. Sebab, film menjadi paket yang tidak hanya menyuguhkan teknik atau efek semata. Karenanya penonton mungkin menganggap kalau cerita yang mainstream dan tak sesuai ekspektasi itu kurang layak tonton.

  • Jadwal Rilis Kurang Tepat

Banyak film-film yang rilis di waktu tepat dan bisa meraup jumlah penonton yang sesuai harapan. Misalnya film yang rilis di momen lebaran, natal, libur tahun baru, dsb. Jumlah penonton di hari-hari awal rilis juga memengaruhi frekuensi tayangnya.

Bagaimana pun pihak bioskop enggan menanggung kerugian akibat memutar film yang sepi peminat. Karenanya, jumlah penonton yang merosot di masa awal rilis bisa semakin menciutkan jatah tayangnya. Hal ini tentu semakin mempersempit kemungkinan untuk menjaring penonton yang lebih bejibun.

  • Faktor Penonton

Bicara soal perfilman CGI Indonesia, mungkin penonton sendiri masih kurang memercayainya. Maklum saja, efek ini masih terbilang baru, sementara ekspektasi penontonnya sudah begitu tinggi. Karena itu, bisa jadi mereka sudah lesu duluan untuk melihat produk negeri sendiri.

Tetapi pihak produksi film juga tak bisa menyalahkan penonton sepenuhnya. Sudah tugas mereka juga untuk meyakinkan dan menarik minat para penonton. Selain menggaet bintang terkenal, membuat jalan cerita unik, serta gencar promo, keunikan atau daya tarik film juga patut diperhatikan.

Nah, terima kasih sudah berusaha maksimal. Semoga tetap semangat memajukan produksi film Indonesia. Kami tunggu karya-karya CGI keren berikutnya, ya! Demikian, 4 Film CGI Indonesia Cukup Keren Termahal Tapi Gak Laku “Sepi Penonton, Kenapa ya?”. #RD